INDI (Indonesia Natural Dye Institute): Optimalisasi Potensi Alam Sebagai Pewarna Alami Ramah Lingkungan

08 Feb 2025

-

ekonomisirkular.id

INDI (Indonesia Natural Dye Institute): Optimalisasi Potensi Alam Sebagai Pewarna Alami Ramah Lingkungan

Penggunaan pewarna sintetis dalam berbagai jenis industri seringkali terabaikan. Padahal, pewarna sintetis yang mengandung bahan kimia sintetis merupakan pencemar air yang dapat mengganggu ekosistem lingkungan (Viona, 2021). Bahkan, apabila digunakan secara berlebihan dalam jangka panjang pada makanan maupun minuman bisa menimbulkan efek negatif bagi kesehatan konsumen, mulai dari diare, reaksi alergi, penyakit ginjal, dan lain sebagainya (Parsih, 2022). Pewarna sintetis seringkali digunakan karena dinilai lebih ekonomis sehingga mampu mengurangi biaya produksi. Selain itu, pilihan warna yang ditawarkan lebih lengkap jika dibandingkan dengan warna dari bahan-bahan alam. Akan tetapi, dampak negatif dari pewarna sintetis harus benar-benar diperhatikan untuk mencapai konsep keberlanjutan agar tidak merusak lingkungan sekitar.


Berangkat dari isu ini, Indonesia Natural Dye Institute (INDI) hadir sebagai grup riset yang berfokus pada pewarna alami dengan visi besarnya yakni “menjadi sarana dan rujukan pendidikan, penelitian, pengembangan, dan pengadaan pewarna alami untuk mendukung Indonesia yang sehat secara lingkungan dan manusia, sekaligus sejahtera secara ekonomi”. Berdasarkan penuturan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Edia Rahayuningsih, MS. selaku ketua, pendirian INDI dilatarbelakangi oleh kegelisahan beberapa peneliti dan akademisi UGM terhadap pemanfaatan pewarna alami yang masih belum optimal.


Indonesia dengan keelokan alamnya menawarkan berbagai keanekaragaman hayati yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami. Melalui Indonesia Natural Dye Institute (INDI), potensi ini kemudian digali dan dikembangkan. Meskipun dari bahan alam, pewarna alami memiliki berbagai keunggulan dibandingkan dengan pewarna sintetis. Pewarna alami bersifat biodegradable yang aman dan tidak mencemari lingkungan. Secara ekonomi, produk tekstil yang menggunakan pewarna alami memiliki nilai jual yang lebih tinggi, terutama di pasar internasional yang semakin peduli terhadap isu keberlanjutan. Lebih dari itu, pewarna alami juga memberikan sentuhan eksklusif karena dapat menghasilkan warna warna unik yang tidak bisa direplikasi oleh pewarna sintetis. Potensi ini diharapkan dapat meminimalisir ketergantungan impor pewarna sintetis, mendorong perkembangan pemanfaatan pewarna alami dalam produk-produk UMKM, serta mendukung Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional (RIPIN). 


Salah satu program yang dicanangkan oleh INDI adalah mini plant serbuk pewarna alami (tannin) dari limbah kulit kayu merbau (intsia bijuga). Dalam penerapannya, INDI bekerja sama dengan mitra CV Karui Jayapura yang diresmikan pada 22 Februari 2022 lalu. Selain itu, INDI telah menjalankan berbagai kegiatan lainnya untuk terus mendukung pengembangan pewarna alami, seperti audiensi, rapat koordinasi, workshop, hingga pameran produk produk. Hingga saat ini, INDI juga terus memperkuat kerjasama dengan berbagai pihak, mulai dari Bappeda Cilacap, Bank Indonesia DIY, hingga UNESCO. Melalui berbagai upaya yang telah dilakukan tersebut, harapannya INDI dapat terus berkembang dan dapat semakin dikenal oleh berbagai lini masyarakat sekaligus menjadi tonggak untuk eksistensi pewarna alami di Indonesia.



Penulis:

Aulia Putri Rahmatika


Referensi:

Parsih, S. (2022). Bahaya pewarna sintetis dalam makanan dan minuman bagi kesehatan dan upaya pencegahannya. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 2(4).


Rahayuningsih, E. (2024). Indonesia Natural Dye Institute (INDI): Inovasi Pewarna Alami untuk Keberlanjutan Lingkungan dan Ekonomi. Diakses dari https://indi.lppt.ugm.ac.id/


Viona, N., & Suprayitno, G. S. (2021). PENGGUNAAN PEWARNA ALAMI PADA BATIK JUMPUTAN UNTUK MENGURANGI PENCEMARAN LINGKUNGAN. Folio, 2(2).

Another news

Pemberdayaan UMKM Desa Wisata Melalui Inovasi Produk dan Transformasi Digital: Menuju Ekonomi Sirkular yang Inklusif

related news

Dari Pelayanan Berkualitas ke Bisnis Berkelanjutan: Pelatihan SDM UMKM Menuju Ekonomi Sirkuler

related news

Peran Teknologi Digital dalam Mendorong Ekonomi Sirkular di Era Industri 4.0

related news

Inovasi Rantai Pasok: Bagaimana Blockchain Menghadirkan Transparansi pada Ekonomi Sirkular

related news

Bambu, Pilar Masa Depan Infrastruktur Hijau

related news

Menilik Potensi Keberlanjutan Masa Depan: Rencana Penerapan Ekonomi Hijau di Indonesia

related news

Research

Capaian Ekonomi Sirkular di Sektor Elektronik Indonesia

related research

Penerapan Ekonomi Sirkular Dapat Membantu Usaha Bertahan Lebih Lama

related research

Manfaat pengelolaan sampah berbasis Ekonomi Sirkular: Studi kasus di Desa Sukunan, Yogyakarta

related research

Ideas

Dari Sisa Jadi Berkah: Menyulap Limbah Keju Menjadi Produk Super

related ideas

Membangun Masyarakat Sadar Sampah: Menantang Krisis Sampah di Indonesia dari Akar Permasalahannya

related ideas

Greedy Economy vs Circular Economy: Benarkah Keuntungan Merupakan Satu-satunya Indikator Kesuksesan dari Suatu Bisnis?

related ideas

Desain Produk Menjadi Kunci Ekonomi Sirkular

related ideas

Mengenal Konsep Ekonomi Sirkular

related ideas

Buah-buahan terbuang? Apa yang harus kita lakukan?

related ideas

CONTACT

+6281224212953

rizkalaliamdyharits@gmail.com

logo green

© 2024 ekonomisirkular.id